Masak Ga Masak Asal Makan

Ga masak gapapa, yang penting makan

WhatsApp status salah satu teman di suatu pagi. Saya spontan me-reply “Mantaff” dengan emoticon tertawa lebar. Kala itu saya membayangkan dia sedang berpacu mengejar waktu, mengantar anak ke sekolah kemudian langsung bergegas ke terminal bus untuk berangkat kerja. Rutinitas yang menuntut ketepatan manajemen waktu yang saya artikan dia tidak sempat memasak untuk sarapan.

“Belajar masak dong mulai sekarang, masa iya besok kalo nikah mau beli mulu”

Lain situasi, kala itu seorang teman (yang lain) menyarankan saya untuk belajar masak. Apakah akhirnya saya belajar? oh tentu tidak hahaha. Kala itu, sebagai single metropolitan yang waktu dirumahnya cuma mampir mandi dan tidur, keahlian memasak lebih dari mie instan ala warkop saya rasa belum urgent. hihihi.

“Mom, your cook always the best”.

Itu kata-kata G dan R setelah mereka menyudahi suapan terakhir sepiring pancake selingan di suatu sore. Dengan status sebagai ibu 2 anak dan istri seorang suami, memasak sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Jangankan mie instan ala warkop, brownies pun bisa saya bikin sendiri. Hihihi. Bangga? Biasa aja tuh.

Kita manusia berubah dan berkembang sesuai dengan situasi dan kebutuhan, itu yang dinamakan adaptasi kali ya?!

Apakah saya mati-matian belajar masak setelah menikah? wkwkwk jawabannya tidak adek-adek. Itu terjadi perlahan, alami dan penuh kesadaran. Percaya deh. Sampai akhirnya belajar baking pun itu natural banget. Dari yang ga tau apa-apa sampai akhirnya apa apa tau. Cieee!

Belum bisa masak saat awal menikah gapapa. Asal ada uang supaya tetap bisa makan. *Aamiin. Berumah tangga samawa bukan soal masakan. Memasak adalah kemampuan yang bisa kita pelajari seiring perjalanan pernikahan. Ada hal-hal lain yang jauuuuhh lebih penting. Apa itu? Saya rasa tiap pasangan punya jawaban masing-masing.

Namun apabila ada yang beranggapan kemampuan memasak dalam rangka menghidangkan makanan sehat untuk keluarga adalah hal penting, sampai harus mengikuti kursus memasak menjelang hari H bagaimana? Ya gapapa dong, Setiap orang kan memiliki prioritas berbeda.

Ini tulisan terinspirasi dari status WA dan beberapa undangan khitan (eh koq khitan?!) juga pernikahan yang saya dapat dua bulan terakhir ini. 😀

Oh iya untuk semua newly wed Selamat menempuh hidup baru and welcome to the squad, selamat merasakan pengalaman ber-jet coaster di wahana pernikahan. Santuy! Modalnya cuma satu. KESADARAN UNTUK MAU BERADAPTASI. 😉

 

-Ta-

Image

Baca juga : Masak Apa Hari ini??

 

 

 

Secangkir Kopi Kesayangan

Waktu favorit saya adalah saat pagi hari. Saat saya duduk sendiri di teras belakang rumah dengan secangkir latte merk kesayangan. Pemilihan merk bukan atas dasar exclusive, pricey, atau kekinian, bahkan rasa, Namun karena nostalgia.

Merk inilah yang selalu dibeli ibu saya dulu. Kopi instan dan krimer. Pun, ibu saya memilih karena alasan kepraktisan. Tersedia di koperasi kantor. Hehehe. Jadi begitu saya mendapati merk ini saat belanja bulanan (sekarang ada kemasan praktis tinggal seduh siap dinikmati) rangkaian puzzle nostalgia itu tersusun kembali. Walhasil latte ini selalu ada di keranjang belanjaan saya setiap bulan.

Rutinitas ber kopi-susu di pagi hari ini terkadang ditemani 2 lembar roti tawar bersalut mentega dan meises andalan dari toko bahan kue langganan. atau butter cream homemade yang ternyata mudah dibuat sendiri dengan 2 bahan mentega dan gula halus yang di mixer sampai halus.

Menikmati itu semua membuat saya bersyukur atas kenangan masa kecil saya, bersyukur atas kehidupan sekarang : anak-anak, suami, keluarga, kesehatan. Dan bersyukur atas kehidupan di masa mendatang.

Kalau kalian, punya waktu favorit ga?

cappuccino-2179028__340

Image by Pixabay

Perayaan Hari Kartini

Di era sekarang masihkan kalian memperingati Hari Kartini, lengkap dengan lomba busana kartini, peragaan busana, karnaval, lomba memasak atau yang lainnya?

Saya ingat dulu, duluuuu sekali 😀 saat masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, kegiatan berpakaian adat dalam rangka memperingati Hari Kartini merupakan acara rutin, semua orang tua berlomba-lomba untuk menyulap bocah kesayangan mereka secantik dan segagah mungkin untuk berlenggak-lenggok di atas pentas bak model kenamaan.

Tidak seluruhnya berhasil berlenggak-lenggok dari satu ujung pentas ke ujung pentas yang lain, karena beberapa ada yang tumbang berderai airmata mogok tidak mau jalan, padahal dandanan sudah maksimal. Hasilnya ya turun pentas dan dipangku ibunya, ada juga yang mau naik panggung kalo ditemani ibunya. Hasilnya si ibu yang berjalan di pentas sambil menggandeng atau bahkan menggendong anaknya.

Beberapa hari lalu tepatnya minggu sore, komunitas ibu-ibu PKK tempat tinggal saya membuat tema Kartini Looks untuk acara arisan bulanan. Dengan berpakaian batik atau kebaya, ber make-up kondangan, duduk di kursi plastik di lapangan tempat biasa kami bermain volley.

Acara dimulai dengan menyanyikan Mars PKK dan pembacaan 10 program pokok PKK dan tentu saja kocokan arisan hehehe, Kami bergantian berlenggak-lenggok di sepanjang paving yang kami hias sederhana dengan balon dan pita merah putih. Banyak tawa menyertai.

Diakhir acara kami berfoto bersama, pemenang busanan terserasi mengenakan mahkota berikut selempang yang kami buat dari kertas manila dan sebuket bunga pinjaman dari tetangga yang memiliki usaha wedding organizer. Penuh canda dan tawa. Hiburan di akhir minggu bagi perempuan-perempuan pejuang keluarga.

Selamat Hari Kartini Perempuan-perempuan Indonesia.

IMG-20190415-WA0005[1]

Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena dia akan menjadi ibu. -Dian Sastro-

 

-Ta-

Tantangan 10 Tahun

Aku sempat ngulik koleksi foto lama juga demi ikutan trend. Tapi karena satu dan dua hal, ditambah berasa engga banget untuk ikutan, aslinya sih karena ga nemu foto yang kece hahaha, jadinya sampe sekarang ga ada feed aku di IG tentang #10yearschallenge.

Sampai kemudian beberapa hari lalu aku baca blog post yang nongol di timeline. Oke juga idenya alih-alih pake foto, kita bisa pake tulisan untuk menggambarkan perjalanan 10 tahun kita. 

2009. Boleh dibilang ini tahun merupakan next chapter of my life. Setelah beberapa bulan sebelumnya dilamar kekasih, kamipun menikah. Teman kantor, udah lama kenal, cuma semriwingnya baru-baru aja. Hahaha. Anak pertama kami lahir di penghujung tahun.

2011. Kebeli mobil. Anak kedua lahir. Kejar setoran. Umur udah ga unyu-unyu lagi macam girlband korea.

2014. Traveling pertama ke luar negeri berempat. Anak-anak masih imut, lihat foto paspor mereka aja gemes.

2015. Kebeli rumah. Alhamdulillah.

dsc_0910

Perjalanan sepuluh tahun yang mulus dan bergeronjal udah terlewati. Hitam dan putih silih berganti. Dan seiring bertambahnya bilangan kebersamaan, harapanku makin kesini makin berwarna cerah. Aamiin.

Nah sekian #10yearchallenge versiku. Kalaupun tidak sah untuk menjadi #10yearschallenge (karena ga pake foto diri hahaha) paling tidak cerita ini sebagai pengingat sepuluh tahun pernikahan. Eaaa..

Apa #10yearchallenge kalian?

 

-Ta-

Akhir Pekan, Saatnya Melakukan Hobi

Hello. Another weekday. What did you do last weekend?  

Semenjak memutuskan resign beberapa tahun lalu, saya jadi lebih banyak waktu fleksibel untuk melakukan aktifitas yang saya suka. Selain menulis, crafting adalah salah satu kegiatan ‘pembunuh waktu’ saat senggang. Jadi, saya ga perlu nunggu wiken untuk melakukan hobi saya.

Weekend kemarin saya bikin beberapa buah gelang. Gelang adalah aksesoris favorit saya setelah jam tangan hehehe. Naksir baju di mall saya bisa woles, sampai rumah trus tidur lupa deh sama bajunya pas bangun inget lagi sih. Hahaha. Kalo naksir jam tangan buset kebawa mimpi. Bangun tidur terbayang-bayang, hidup ga tenang.

Balik soal gelang, saya sudah lama suka pake perhiasan ditangan termasuk gelang. Makin gede coba bikin sendiri. Thanks to youtube yang memungkinkan kita belajar mandiri. khusus yang model ini saya sudah eksperimen dengan beberapa jenis dan ukuran materialnya sampai akhirnya nemu yang pas.

Lah koq waktu saya pake, dan suami lihat, dia bilang “aku mau dong dibikinin yang warna merah”. Dan dia pake sudah hampir setahun. Awet ga lepas pasang. Mandi dipake, olah raga dipake, cuci mobil dipake, tidur dipake, ngantor dipake, pengajian dipake, kondangan dipake, meeting pun dipake. HEHEHE. Any condition, any situation.

20180804_092729

Ini nih kenampakkannya

Karena saya suka dengan designnya yang simpel, puas dengan awetnya dan ga ribet lepas pasang pas mandi jadi saya mau sebar racun per gelangan ke siapa saja yang suka pake gelang hehehe.

Dipake couple sama pasangan lucu loh, kembaran sama besties, atau temen se komunitas juga oke. Berasa kan persaudaraannya. Saya bikin buat suami itu dalam rangka anniversary tahun lalu. Masih OK dipake sampai sekarang.

IMG_20180804_193755_738

Pilihan Warna

IMG_20180804_193755_742

Harga

Kalau minat email saya di heyparis@gmail.com. Oh iya kalo pesen sekalian yang banyak. Supaya ga rugi ongkir. MODUS hahaha. Boleh intip IG saya di sini

 

Selamat hari senin dan selamat beraktifitas.

 

 

–Ta–

 

 

 

Sudahkah Kita Bersyukur Hari ini?

Pagi tadi, setelah anak-anak berangkat sekolah, saya duduk di teras belakang berteman secangkir white coffee. Tangan kanan mengutak-atik smartphone membuka aplikasi social media. Scroll up, scroll down melihat beberapa feed pesohor yang saya follow. Beralih ke sosmed satunya, saya berhenti untuk membaca komentar sepupu saya mengenai foto yang menampilkan ibu-ibu memakai kaos bertuliskan #2019 ganti presiden sedang berdemo. Kemudian tertawa menyadari preferensi politiknya.

Membaca beberapa twit, saya berhenti pada satu twit dari akun ‘menulis’ yang saya follow, begini bunyi twitnya :

Mari Menghitung Sukacita.

Apa yang membuatmu bahagia hari ini?

Saya buka tautan komentar twit tersebut, penasaran dengan apa yang ditulis para followernya. Beragam, ada yang menulis bahagia karena sudah berhasil mencoba resep masakan, bahagia karena selesai membantu orang tua memanen hasil kebun, ada juga yang bahagia karena selesai ber video call dengan keluarga yang sedang jauh, ada yang berbahagia karena nilai UAS nya bagus, ada juga yang bahagia karena sudah bisa tertawa lepas mengobrolkan hal-hal sederhana, mengobrol dengan seseorang yang duduk disebelah waktu naik pesawat, bahagia karena habis makan banyak dan gratis daaaan banyak lagi bahagia lain yang tertulis di kolom komentar itu.

Saya diam sejenak, membayangkan tulisan-tulisan yang baru saya baca. Saya tergiur untuk mengkoleksi kebahagiaan dan syukur saya juga. Salah satunya, saya bahagia pagi ini bisa duduk di teras belakang rumah, menyesap kopi putih dan membaca twit tersebut yang kemudian mengajak orang lain untuk mensyukuri kebahagiaanya melalui posting ini.

Selamat Pagi. What are your grateful for today? 

 

 

 

–Ta–

Cerita Sepanci Bakso

Batuk pilek udah dua minggu, puyeng srat srot ngentek-enteki tisue. Minum obat ga mempan, sampe dicekoki jeruk nipis sama kecap tetep ndablek pileknya. Hopeless, akhirnya selasa kemarin saya ke dokter. Itu juga karena mama udah teriak di telp “oiii periksa oii ntar nular ke anak-anak”. Haha.

Sekitar jam 9 sampai RS, ke loket untuk daftar dan bla bla. Nunggu di ruang tunggu sebentar sebelum nama saya di panggil. Saya masuk ke ruang periksa ucap salam, tapi ga pake salim, Begitu duduk mata saya langsung berhenti sepersekian detik memandang sosok dokter di depan saya.

Bukan mantan. Saya takjub sama hair-do dan make-up bu dokter, mungkin beliau setelah praktek langsung kondangan. Bisa jadi. Ato rambut bekas kondangan semalam belum diberesin.

Sampai rumah saya langsung nelen 4 pil pahit buah tangan dari kunjungan ke bu dokter cetar tadi. Saya tiduran di sofa nunggu jadwal selanjutnya yaitu kunjungan ke RS bezuk anak tetangga yang sakit. Ah kalo diingat hari itu jadwal saya padat meratap. Setelah sempat melayat tetangga yang meninggal pada pagi harinya sebelum berangkat ke dokter tadi.

Jam setengah duabelas saya berangkat bezuk dengan beberapa ibu-ibu komplek. Mampir ke toko kue untuk beli kue (iya, kalo beli semen di toko bangunan). Selesai bezuk saya udah buru-buru pengen sampe rumah dan tidur. Tapi rupanya kurang seru kalo pasukan ibu-ibu pergi bersama tanpa mampir. Toko baju adalah pilihan yang naas pas. Haha. Karena pasti lamaaaa pake banget kan.

tik tok tik tok tik tok …….

Akhirnya sampai rumah. Bantal guling udah terbayang di pelupuk mata. Masuk dapur untuk ambil minum. Eh lha dalah, sepanci bakso ada diatas kompor dalam berbagai ukuran, kecil, sedang, besar. Dan yang sedang heitsss yaitu bakso beranak.

Oh ini toh hadiah, setelah melewati hari yang “padat” tadi.

-Ta-