Reflection

Libur Akhir Pekan

Mumpung hari minggu, yuk ah kita nulis kegiatan favorit klo pas libur weekend. Libur akhir pekan -sabtu dan minggu- itu pastinya sangat dinanti ya. Untuk sebagian orang waktunya leha-leha alias leyeh-leyeh, untuk sebagian lagi waktunya beberes rumah, yang lain bilang waktunya me time, yang lain lagi waktunya jalan-jalan mengeksplore tempat wisata.

Kalo kalian ??

Weekend ini saya sedang (ingin) dirumah saja. Sejak sabtu kemarin saya habiskan waktu dengan membaca cerita-cerita di aplikasi Wattpad, kalo sedang pas kita bisa dapet cerita yang bagus dan keep reading sampai selesai. Hehehe. Klo engga ya tinggal lompat ke judul yang lain. Banyak banget pilihannya.

Pagi hari saya dan anak-anak kompak bangun siang hahaha. Kalo biasanya setengah lima udah bangun dan grabak-grubuk siapin sekolah de el el. Klo libur gini emang waktunya nurutin ego untuk bangun siang. Setelah sarapan trus beberes rumah. Anak-anak udah mencar masing-masing muterin komplek perumahan naik sepeda, main sama kucing juga. Siangnya ada temennya si adik yang main ke rumah. Temen sekolah yang rumahnya sekomplek sama kita.

Setelah makan siang kita semua take a nap. Banyakin tidur deh ceritanya kemarin itu hahaha. Mumpung liburaaan yak. Kumpulan tenaga -juga rupiah- untuk jalan-jalan lagi 😁.

Sorenya saya pergi bersama anak-anak ke toko peralatan olah raga air di pusat perbelanjaan didekat rumah. Dapet rekomendasi tokonya dari seorang teman. Koleksinya lumayan bagus dan banyak pilihan. Harganya jauh lebih affordable kalo dibanding dengan merk ternama seperti Sp***o, tinggal kita uji kualitas bahannya setelah beberapa kali pakai. Si kakak akan ada kegiatan outbound hari kamis depan.

Selesai membeli keperluan kami keliling pertokoan. Hehehe even anak-anak pun butuh cuci mata ya. Setelah puas, kita mampir beli es krim. Dimakan di mobil sambil nyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan pulang. Simple ya?! itu aja udah bikin happy lho.

Selamat berakhir pekan

e557c5faf0b74f7dce1876be04ee3395.jpg

 

 

 

 

–Ta–



 

 

 

Advertisements
Reflection

Menghitung Mundur Menuju 2018

Hari ini adalah tanggal terakhir di 2017. Terlalu common klo saya bilang “ga terasa ya udah setahun lewat, atau lah udah mau ganti tahun nih goals saya belum tercapai, atau duabelas bulan udah lewat ya cepet banget, de el el”.  Sering kan kita denger kalimat itu dari sekitar? Atau kita juga salah satunya? Hehehe..

Buat saya pribadi 2017 merupakan tahun pendewasaan, titik awal menjadi pribadi yang baru setelah rentetan kejadiaan yang terjadi beberapa tahun belakangan. Berat ya kalimatnya!? Mengandung curhat *mringis.

Keputusan untuk stay di dalam kota saat libur lebaran 2017 bukanlah tanpa alasan. Waktu itu mama saya bilang kalo kondisi papa tidak baik. Beberapa acara yang telah disusun serta merta kami batalkan, seperti reuni keluarga besar, berlibur, dan tentu saja jalan-jalan dadakan tipis-tipis.

Beberapa hari menjelang lebaran kami selalu berkumpul di rumah mama. Saat itu akhirnya tiba. Lebaran hari ke-3, raga papa pergi untuk selamanya. Tetap saja itu berita yang mengejutkan walaupun beliau sakit sudah bukan hitungan bulan namun, kehilangan anggota keluarga bisa jadi pukulan telak.

Kami tidak mau larut dengan ratapan. Kami tidak mau menganggap ini kesedihan, pun bukan juga kebahagian. Lebih pada pengingat, tugas papa memang sudah selesai di dunia ini. Kami akan melanjutkan hidup, berbahagia dengan kenangan yang sudah tercipta. Goodbye Pa, See you in heaven.

Beberapa momen di 2017

Bukit Jaddih salah satu pengalaman berkesan. Teriknya yang aduhai sepadan dengan foto-foto yang instagram-able.

Cerita tentang bukit jaddih baca di Bangkalan, Mampirlah Ke Bukit Jaddih

Belum lengkap masa kecil anak-anak zaman now kalo belum berkunjung ke Museum Angkut ;D

Disinilah nanti kita akan kembali. (no need caption)

Kegiatan anak-anak

melancong tipis-tipis bukti eksistensi warga metropolitan wkwkwk

Selamat Tahun baru untuk semuanya semoga kita menjadi pribadi yang baik di 2018. Goal saya banyak untuk tahun depan and I’ll keep for myself aja. Satu yang bisa saya bocorin adalah saya pengen bisa menulis lebih banyak, lebih sering dan lebih baik. Aamin.

Sekian dan terima kasih. Milihin foto ternyata melelahkan. Saya butuh es teh. Sampai jumpa di 2018.

 

–Ta–

 

 

Reflection

Be Happy

Berdua saja dengan si mbak, suami udah berangkat dari subuh karena musti terbang ke luar kota dan anak-anak sudah berangkat sekolah saya anter jam setengah delapan tadi. Saya masih mondar-mandir ke depan rumah dan belakang, kemudian ke atas ngobrol dengan si Mbak yang sedang bersih-bersih. Masuk dapur, sesekali balik ke ruang depan mencuri-curi melihat Channel TV yang sedang saya tonton sambil lalu. Rutinitas pagi.

Sekarang saya sudah bisa duduk, without any distraction of kitchen matter. iPad diatas meja didepan saya. Sudah lebih dari sebulan sejak posting terakhir saya. Untuk itu saya merasa berhutang. Saya mulai mengetik sederetan kata menjadi kalimat. I am enjoying my solitude. Sesekali saya membalas message yang masuk di inbox saya. Menulis adalah salah satu me time saya. Kegiatan penyeimbang supaya saya tetap pada “frekuensi” mood yang baik. Jadi meskipun sehari-hari saya dirumah, saya tetap mempekerjakan asisten untuk handle beberapa pekerjaan rumah tangga. Dengan begitu saya punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat saya menikmati hidup, salah satunya menulis. Hidup itu dibawa happy aja. Harus itu. Bahagia bukan lantaran apa dan siapa. Bahagia karena saya mau hidup saya bahagia. No matter what. Tidak ada yang lebih bertanggung jawab atas kebahagiaan kita, kecuali kita sendiri. So don’t blame anybody else for your unhappiness. 

Beberapa hari lalu, untuk kesekian kalinya saya baca posting yang berseliweran di wall yang isinya mengeluh, bersedih, merasa tidak beruntung dll, yang menghasilkan “frekuensi” negatif bagi pembaca lebih-lebih si empunya posting. Masih ada ya orang-orang yang berkeluh kesah di sosmed. Menulis untaian kalimat sedih dan tidak puas lengkap dengan segala caci maki seolah dia adalah makhluk paling tak beruntung di jagat ini. Menurut saya orang-orang seperti ini punya bakat menulis dan berekspresi. Cuma khilaf dalam menyalurkan hehehe. Coba kalo kalimat itu diketik dan di print di atas kertas A4, diberi judul dan di kirim ke publisher mungkin bisa rilis jadi novel ato cerpen dan dapet honor. Jadinya positif.

Bahagia setiap individu beda-beda lho, jangan di sama ratakan, Ada yang bahagia hanya dengan makan bakso, ada yang engga. Ada yang senang  bukan kepalang karena berat badannya susut 1 kilo, kemudian dirayakan dengan makan coto Makassar dan es Palu Butung, pulang ke rumah, timbang badan dan menangis bombay karena bobotnya naik 1,5 kilo, sapaaaa hayooo??!! 😜. Kita sendiri yang paling tau apa yang bikin kita berada di mood bahagia. Kenali bahagiamu dan raihlah. Mau gimana pun kondisinya hashtag nya adalah be happy. Setuju???? Udah setuju aja!

Sedih senang itu berjalan beriringan. Masalah dan solusi itu karib. Semuanya punya peluang membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat berbahagia perempuan Indonesia.

#Lanjut nyemil kacang atom….. 

 

Ismen, may 9, 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

Reflection

Anak Sebagai Jejak Keberadaan Orang Tua

UNICEF mendefinisikan anak  sebagai penduduk yang berusia antara nol sampai delapan belas tahun

Undang-undang RI nomor 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, menyebutkan mereka adalah yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah. Penjelasan mengenai batas usia 21 tahun di tetapkan berdasar pertimbangan kepentingan usaha kesejahteraan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seseorang yang umumnya dicapai setelah seseorang melampaui usia 21 tahun.

Terharu kalo lihat anak-anak udah segede ini. Terbayang segala kerepotan yang sudah terlalui dengan meriah 😂😂. Tau-tau sekarang mbakyu udah SD dan adek udah TK, daaaan kemarin saya udah nemu uban di kepala. Saya berharap hanya mimpi, tapi pas saya tarik, pala saya atit😜. Harapannya sih umur bisa jalan ditempat hehehe, tapi sang waktu seolah mengajak berlari. Melihat anak-anak tumbuh besar adalah bukti waktu berputar tidak bisa disangkal, meski dalam hati, kekeuh di angka 27 wkwkwk.

Tugas orang tua itu gedein anak. Proses (membesarkan) ini unik. Karena memang setiap anak berbeda, even lahir dari orangtua yang sama. Tapi satu yang saya yakini, anak-anak ini adalah peniru, mereka dengan sangat cepat meniru apa saja dilingkungannya. Mau jelek mau baik. Hehehe ngeri-ngeri sedap ya. Karena kata jelek dan baik cuma terpisah kata dan. Dan setiap orang tua maunya anak-anak meniru hal yang baik. Bener apa betul? Jadi best practice nya adalah menunjukkan pada mereka hal-hal yang (dianggap) baik itu. Simpel aja. Tunjukkan teladan.

Kalo kita mau anak-anak membuang sampah di tempat sampah, ya kita orang tua harus membuang sampah di tempat sampah, kalo kita mau anak-anak sehari mandi dua kali, ya kita orang tua harus kasih teladan mandi dua kali. Jangan kita males mandi, tapi maunya anak-anak kita rajin mandi. Itu orang tua sak karepe dewe. Adalagi, salah satu contoh yang mungkin dianggap enteng sama ortu. Berjanji. Misal nih suatu saat anak rewel minta mainan. Trus kita kasih janji “iya nanti kalo adek full sekolah sampe Jumat, ntar Sabtu kita pergi beli mainan ya”. Si anak mengangguk.

Daaan, datanglah hari Sabtu itu. Kadang kita anggap enteng ahh mainan aja koq. Ga penting. Emang iya mainannya ga penting, tapiiii ingatlah kita wahai orang tua, yang penting itu adalah janjinya. Kita sudah berjanji untuk membelikan mainan pada hari Sabtu setelah anak full sekolah dari Senin sampai Jumat. Dan janji adalah hutang, dan hutang harus ditunaikan. Karena dibalik itu pelajaran moral yang kita teladankan pada anak-anak adalah supaya mereka tumbuh sebagai pribadi yang menghargai janji.

Ada banyak teladan baik yang harus kita tanamkan pada anak-anak. Dan kita orang tua lah yang paling bertanggung jawab mengenalkannya. Bukankah benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Kalo buahnya mau ranum, pohonnya juga harus sehat kan!

Doa mami untuk kalian mbakyu dan adek semoga menjadi anak-anak yang bahagia dan menjadi pribadi yang baik dikemudian hari. Gunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk merayakan usia kanak-kanakmu sekarang, karena kelak sangat berguna di kehidupan dewasamu.

 

Ismen, Sidoarjo

 

–Ta–