Libur Telah Usai, Saatnya Kembali ke Sekolah

Selamat malam *nyengir lebar dan pala nyut-nyutan. Apa kabar mamak-mamak kece pejuang bekal? Tahun ajaran baru udah mulai. Hari ini awal masuk sekolah, untuk sebagian sekolah mungkin sudah mulai minggu lalu. Tahun ajaran ini G kelas 3 dan R  kelas 1 (dua-duanya masih SD) hihihi, masih imut ya?! Iyalah kan maminya juga masih imut *yang baca langsung muntah.

Hari pertama sekolah ini saya niatin untuk anter anak-anak sekolah, tujuan saya sih lebih untuk menemani R membiasakan dengan lingkungan barunya, Kalo G sudah mandiri saya udah ga khawatir. Sampai sekolah kira-kita jam 6.15 (jadwal masuk jam 6.45) udah ga dapet parkir, jadi scenario nya adalah saya drop mereka di depan gerbang dan lanjut mencari parkir agak sedikit jauh dari sekolah.

Saya : “mbak ndis, tolong anter adek ke kelasnya dulu ya. Pastiin itu kelasnya di cek di list yang ditempel di depan kelas ya?” 
G       : Consider it done, mommy.

Saya terharu hehehe sudah segede itu dia. Surprisingly si R pun dengan pedenya keluar mobil dan masuk ke sekolah tanpa saya temani. Proud of them. 

Setelah saya parkir kendaraan, saya berjalan ke sekolah dan langsung menuju kelas R, dari kejauhan saya melihat dia sedang berlarian dengan temannya. Good. Sudah dapat teman rupanya batin saya. Lanjut ke lantai dua melihat kelas G, dia sedang duduk di depan kelasnya dengan beberapa teman semasa kelas 2 dulu. Saya melihat kedalam kelas suasana masih sepi, lampu kelas malah belum nyala bahkan Homeroom teacher nya pun belum tampak.

Selamat kembali ke sekolah anak-anak mami. Be a good student, but the most important is, be yourself. 

 

Memilih Sekolah Yang Bagus, Seperti Apa sih?

Hi parents

Sebentar lagi tahun ajaran baru ya. Ah cepat sekali anak-anak beranjak besar. Sebagian parents mungkin sudah mantap menentukan sekolah mana yang akan dituju dan sebagian lagi mungkin sedang gulana mencari info sana-sini untuk memantapkan pilihan, dan sebagian mungkin malah belum kepikiran. “Tunggu entar ajah lah”.

Memilih sekolah untuk anak merupakan keputusan serius, Karena sebagai “rumah” kedua untuk anak-anak, sekolah harus memiliki visi yang sejalan keluarga mendidik anak-anak. Setidaknya bagi saya dan juga buat parents diluar sana tentunya.

Dua tahun lalu saya melewati proses mikir-mikir, timbang-timbang, tanya-jawab sana-sini saat memilih sekolah untuk anak saya yang pertama. Terhitung setengah tahun sebelum dimulainya tahun ajaran baru saya sudah mulai serius menyeleksi dan mencari tahu beberapa sekolah dasar. Maklum anak pertama, jadi saya punya pengalaman memilih sekolah sebelumnya.

Harapannya saya “tidak salah pilih” sekolah, tempat dimana anak saya nanti melewati enam tahun pertama pendidikan dasarnya. Picky? of course.

 

Tahun depan giliran anak saya yang kedua akan masuk SD, lebih santai. Karena saya sudah punya sedikit pengalaman memilih sekolah untuk mbakyunya. Sekolahin jadi satu aja sama kakaknya. Sekalian anter jemputnya. Hahaha. Eiiitss… Saya harap kita orang tua ga mikir sesimpel itu ya. *walaupun sah-sah saja klo itu salah satu pertimbangannya.

Tapi yang juga jadi pertimbangan (utama) adalah apakah klo si kakak cocok sekolah disitu si adek juga akan cocok. Kan kakak adek ga selalu sama karakter dan kebutuhannya,  baca disini yuk, supaya sama-sama belajar.

Lalu pertanyaannya adalah, sekolah yang bagus itu gimana sih?

Abstrak banget memang, karena bagus itu sangat relatif sifatnya. Bagus buat saya, belum tentu bagus buat orang lain. Definisi sekolah bagus memang kemudian akan mengalihkan pada pertanyaan berikutnya, bagaimana cara memilih sekolah yang bagus?

Sekadar berbagi, berdasarkan pengalaman saya, pertama yang harus dipahami orang tua adalah, karakter anak. Dari situ kita bisa mengetahui apa yang dibutuhkan anak kita. Nah setelah itu kita mulai mencari tahu mengenai sekolah-sekolah yang cocok dengan kebutuhan anak sesuai karakternya dan tentunya mengembangkan potensi anak-anak, jangan sampai yang menurut kita baik malah menjadi sumber stress bagi anak-anak.

Secara umum beginilah kualitas sekolah yang baik itu:

  1. Memperhatikan kebutuhan psikologis mendasar anak dan memperhatikan tahapan perkembangan anak. Contohnya, kebutuhan anak untuk merasa mampu. Apakah sekolah tersebut misalnya memberikan kesempatan bagi anak untuk menampilkan kebiasaannya, atau apakah sekolah memberi kesempatan kepada anak untuk mengikuti kompetisi meskipun ia tidak berprestasi.
  2. Dapat memenuhi kebutuhan unik atau individual anak. Sekolah yang seperti ini biasanya melakukan pembedaan cara pengajaran, misalnya memberikan tugas yang lebih sulit untuk anak yang sudah lebih advanced atau menerangkan dengan menggunakan alat bantu gambar untuk anak yang memiliki gaya belajar visual.
  3. Dapat membantu pencapaian tujuan jangka panjang orangtua untuk anak masing-masing. Artinya sekolah harus memiliki nilai-nilai yang sama dengan orangtua. Misalnya bila orangtua menginginkan anak memiliki kemandirian, apakah sekolah tersebut melakukan hal-hal yang bisa membuat anak mandiri atau selalu membantu anak dalam melakukan segala sesuatu sehingga tidak melatih kemandirian anak. Hal ini bisa dilihat pada saat kunjungan ke sekolah.  Selain berbicara dengan kepala sekolah, sempatkan untuk berbicara dengan guru, murid, atau mungkin orangtua lain yang ada di sekolah.
  4. Sekolah yang memiliki tujuan pendidikan yang sama dengan orangtua. Kembali lagi lihat visi dan misi sekolah. Apakah sekolah tersebut bertujuan menciptakan anak-anak dengan nilai tes yang bagus atau membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan belajar (seperti kemampuan analisa, riset, penyelesaian masalah) sehingga dapat menjadi pembelajar mandiri.

And last but not least pertimbangan biaya tentunya juga dipikirkan. Berapa biaya masuknya, dan berapa biaya perbulannya. Dan biaya segitu sudah mencakup apa saja. Okay parents selamat hunting sekolah yaaa.

photo credit : koleksi pribadi

 –Ta–