Family Trip

Tanjung Papuma – Menjejakkan Kaki di Kota Kenangan (1)

Pernah tidak merasa rindu akan suatu tempat? Rasa rindu yang membawa kita pada kenangan masa lalu. Rasa rindu yang mampu membuat kita senyum-senyum sendiri atau bahkan menangis haru. Bisa jadi itu kampung halaman kita atau kampung halaman mantan pacar 😉, or just any town you drop-by for lunch and you stuck on the taste of the food.

Saya sendiri selalu terkenang masa-masa kecil yang saya lewatkan di kota leluhur saya setiap tahun di hari Raya Idul Fitri. Saya selalu rindu akan suasana malam takbiran dan membeli baju baru di toko setempat. Iya walaupun hidup di Surabaya, kebiasaan membeli baju baru saat hari raya selalu saya lakukan di kota tempat saya numpang lahir itu. Dan saya selalu rindu akan kebiasaan membaca setumpuk majalah Bobo langganan sepupu saya sambil makan kerupuk goreng pasir. Bersepeda keliling kampung juga termasuk kegiatan yang selalu saya kenang. Campur aduk dengan rindu kenangan masa kanak-kanan sebenarnya😋. So memorable. 

Kerinduan adalah keinginan dan harapan (akan bertemu)

-KBBI-

Dan karena alasan rindu jugalah saya akhirnya menjejakkan kaki di kota ini. My hubby spent his college year in this town. So after 20 years he brought me and kids to memorable this town. Ide untuk mengunjungi Jember sebenarnya terucap saat perjalanan pulang dari Sengkaling beberapa waktu lalu. Saat itu saya ngobrol dengan suami tentang next travelling destination. Muncul opsi pantai. And two days after saya sudah reserve kamar di salah satu hotel tidak jauh dari kampus UNEJ.

Cinderella: Ketika Gadis Biasa di persunting Pangeran

Jember adalah salah satu kota di Jawa timur, berjarak sekitar 138 km dari kota tempat tinggal kami. Rute yang kami tempuh kemarin adalah sidoarjo-Pasuruan-Probolinggo-Lumajang-Jember. It takes 6 hours to reach Jember downtown. Kami berangkat dari rumah sekitar jam setengah delapan pagi. Dan karena ini family Trip dan bawa anak-anak, jadi perjalanannya ga keburu alias santai kaya dipantai sambil makan satay, we can stop anytime and anywhere😄. Kadang berhenti di SPBU karena si mbakyu pengen pipis, jalan sebentar gantian si adek minta pup dan kami berhenti lagi di SPBU berikutnya. Lanjut jalan, ketemu SPBU. Masuk lagi. Ketika saya tanya alasannya si ayah menjawab “kali ada tukang jual bakso”. Iseng amat.

Setelah si ayah memarkir mobil. Saya keluar dari mobil dan tertarik dengan bangunan didepan saya. Bangunan dengan banyak pintu berjejer layaknya toilet umum. Tapi yang membuatnya berbeda adalah tulisan ‘toilet VIP’ di atasnya dengan keterangan tarif sepuluh ribu rupiah. Wow.. !! Otomatis langsung bertanya-tanya, Why so expensive?! Anxious. Saya ajukan pertanyaan ke anak-anak “siapa yang mau mandi?” Saya mendekati salah satu pintunya. Locked. Akhirnya saya tau kalo saya  harus bilang dulu sama petugas cleaning service kalo ingin menggunakan toilet VIP itu. Tidak lama pintu dibuka saya dan anak perempuan saya masuk. Dia pipis lagi rupanya. Beser.

Benar saja, begitu masuk toiletnya terlihat lebih terawat dengan fasilitas WC duduk, spray dan flush. Dilengkapi shower dengan pilihan hot and cold water. Saat kami keluar dan mencuci tangan di wastafel handsoap nya harum sekali. Setelah menunaikan hajat kami berkeliling, ternyata di sebelah restoran itu juga terdapat toilet umum dengan tarif normal dua ribu rupiah. Sedikit menyesal juga karena saya ga keliling dulu sebelum memutuskan memakai toilet VIP di depan. Didepan toilet tarif normal itu ada playground sederhana untuk anak-anak bermain ayunan. Ada juga mushola di sisi kiri toilet dilengkapi sajadah dan mukena. Dan ketika saya berjalan semakin dalam saya melihat si ayah sudah berdiri di depan gerobak bakso yang mangkal.

image
Kenampakan SPBU

Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan menyenangkan sampailah kami di kota Jember. Tempat yang pertama dilihat adalah terminal TawangAlun. Si ayah mulai bercerita bla bla bla. Jam menunjukkan waktu makan siang, saya Googling tempat makan gado-gado, got it. Dengan dipandu Waze kami tiba di depot tsb yang terletak di depan kantor PT. KAI. Sayang saya ga ambil gambar depotnya. Perjalanan selanjutnya yaitu menuju almamater tercintah😄. Saya ga bisa cerita detail, harus seijin beliaunya😜. Karena dari perspektif tertentu detail ini bisa memalukan😁.

Jpeg
Kalo dulu sendiri, sekarang junior nya pada ngikut 😄

Okay, kunjungan selanjutnya kami dibawa si ayah melihat tempat kost dan tempat biasa dia makan waktu jadi mahasiswa dulu😄. Dia termehek-mehek lihat bangunan rumah kost nya masih persis seperti yang dulu. “Itu dia kamar ayah” katanya memberitahu anak-anak. “Ayah dulu rumahnya sini?” Si adek bertanya. Si Ayah tertawa.

Tidak terasa jam tiga sore sudah terlewat. Kami memutuskan untuk check-in dulu. Kami menginap di hotel yang beralamat di Jl. Karimata, Jember. Hotel yang lumayan strategis untuk kepentingan kami saat itu, dekat dengan UNEJ, dekat dengan tempat-tempat kost dan artinya dekat dengan tempat makan yang ramah dompet hehehe. Bahkan tepat didepan hotel ada tempat laundry yang terasa sekali manfaatnya sepulang kami dari pantai dengan membawa pakaian basah.

image
Tampak depan hotel tempat kami menginap; boneka anak-anak si sheepy yang selalu ikut kemana mereka pergi; si Mbakyu lagi selfie dengan selfie stick dan pantat saya ikut ke-capture🙈

Malam itu kami putuskan untuk tidak kemana-mana mengingat badan lumayan ‘remuk’ karena perjalanan dan kami harus istirahat supaya fit untuk petualangan besok hari. Good night, sleep tight. 

Besoknya, setelah bangun tidur kami berempat kompak menjajal fasilitas pool hotel. Hari masih pagi saat kami nyemplung kolam, masih sepi cuma saya dan anak-anak dan tidak lama si ayah nyusul. Sejam kemudian kami udah mandi dan siap-siap untuk sarapan. Tidak ada yang terlalu special dengan menu breakfast. Saya nemu bubur sum-sum dipojokkan meja dan saya ambil. Yang kemudian saya sesali tidak mengambil banyak karena besok paginya tidak tersedia lagi di menu breakfast.

Kami berangkat dari hotel sekitar pukul sepuluh pagi, berkeliling kota sejenak kemudian berkendara mengarah keselatan kota Jember, tepatnya di kecamatan wuluhan. Iya betul, kami akan wisata ke Pantai Papuma. Pantai yang sedang hits di kalangan traveller. Perkiraan jarak 45 km yang bisa ditempuh dengan waktu 45 menit nyatanya tidak serta merta betul, tergantung kondisi jalan dan berapa kali mampir entah untuk pipis atau minimarket😊.

Kami sampai Watu Ulo sekitar pukul dua belas, panasnya terasa maksimal di kulit. Kami sempat mampir ke salah satu rumah warga untuk pinjam kamar mandi. Lagi-lagi untuk pipis. Setelah mengoleskan sunscreen lotion keseluruh tubuh, kami berempat keluar mobil dan berjalan menuju pantai. Anak-anak semangat sekali, mereka bahkan sudah membawa perlengkapan membangun sand castle dari rumah.

image

It was beautiful. Truly breath-taking scenery. Melihat kursi dan payung berjajar di pinggir pantai mengingatkan saya pada pantai Pandawa di Bali yang kami kunjungi hampir empat tahun lalu. Kalau duduk, kalian akan dikenakan charge sebesar duapuluh ribu rupiah. Tidak ada satupun pengunjung yang duduk saat itu, mereka lebih memilih duduk didepan warung yang memang sedikit lebih teduh.

image
Beberapa pose yang kami abadikan di Watu Ulo

Setelah terik matahari bergeser dari ubun-ubun kami kami lanjutkan lagi perjalanan, kurang dari sepuluh menit kami tiba di pintu masuk Papuma.

image
Pasir Putih Malikan *Papuma*

Kami melewati sekawanan monyet, salah satunya sedang menggendong anaknya. Si bayi memeluk erat perut induknya. Pemandangan yang sarat pengalaman khususnya untuk anak-anak. Mereka mulai berkomentar seru, mulai bertanya seperti itu jenis monyet apa, mana yang ibunya, mana yang ayahnya hehehe. Si ayah menghentikan mobil sebentar. Beberapa monyet berjajar di samping mobil kami, termasuk induk yang sedang menggendong bayinya tadi. Seperti paham bahwa kami ingin melihat mereka.

Tiba di kawasan pantai kami menghentikan dan memarkir mobil di depan salah satu warung makan. Saya melempar pandangan sejauh mungkin ke arah pantai. Wow. Nothing but wow. Terbayar lunas perjalanan panjang yang kami lalui. Indah banget. Pantainya, batu-batu karangnya yang berdiri kokoh dan pasirnya yang putih. Surga bagi pelancong dan penghobi fotografi. Saya berhenti dari kekaguman saya. Waktunya makan siang. Saya berjalan mendekati warung. Menu yang ditawarkan seragam antara satu warung dengan lainnya. Khas warung pinggir pantai. Seafood. Si Ayah memesan cumi asam manis, ikan kakap hitam bakar dan tiga gelas air teh. Terasa nikmat. Entah karena memang lezat atau kelaparan. Anak-anak pun lahap.

Segera setelah makan siang kami selesaikan. Anak-anak sudah berlari menghambur ke arah pantai sambil membawa perlengkapan bermain pasir. Saya mengikuti mereka dari belakang. Ayah masih tinggal di dalam warung. Hari semakin sore, sinar matahari mulai ramah, tidak segarang siang tadi, bermain pasir dan berkejaran dengan ombak menjadi sangat menyenangkan. Sesekali terlihat kilatan api di langit. Seperti akan turun hujan. Benar saja sebentar lagi hujan turun lumayan deras, saya dan anak-anak berlari ke pinggir dan kami berteduh dibawah pohon. Pun, dalam hujan Papuma tetap menawan. Kami tidak beranjak dari tempat kami berteduh. Kami menunggu hujan reda. Sepertinya Tuhan mendengar doa kami dan para traveller lainnya tak lama hujan reda. Anak-anak ribut sekali meminta untuk kembali mendekat ke pantai. Saya menuruti mereka walau gerimis masih turun. Syukurlah tak lama hujan benar-benar berhenti dan cuaca kembali cerah seakan hujan tak pernah datang. Saya terus mengawasi anak-anak seperti induk elang menjaga bayinya, sesekali saya mengambil gambar mengabadikan kenangan. Tak lama ayah datang dan bergabung dengan anak-anak. Tugas saya berkurang, tinggal fokus pada mengabadikan kenangan.

image

Waktu sudah pukul setengah enam sore saat anak-anak akhirnya beranjak dari pantai menuju kamar mandi umum. Iya mereka sangat happy dan enjoy sampai saya harus beberapa kali mengulur waktu karena mereka selalu bilang “ga mau” setiap kali saya ajak mentas. 

Kami keluar dari tempat wisata setelah hari gelap, sempat berhenti dulu untuk mengambil gambar. Saya ga share di sini karena beberapa masih di memori pocket camera. Kami meninggalkan Papuma dengan kenangan yang manis,  keindahannya sudah melekat di memori otak kami masing-masing. Tak kan lepas sampai ajal menjemput. Terbersit doa dan harap. Tunggu kami kembali.

Perjalanan pulang kembali ke hotel hanya suara penyiar radio lokal yang terdengar, kadang sesekali si Ayah ikut menyanyi. Anak-anak sudah terlelap. Nyenyak sekali. Saya walaupun terjaga, tapi jarang bersuara, sesekali saja berbincang  mengenai rute jalan.

Tiba lagi di hotel sekitar jam setengah sembilan malam. Anak-anak ga mau diajak makan malam. Saya temani anak-anak naik ke kamar. Si ayah mau makan malam dulu, ada resto steak di depan hotel.

Thankyou for reading. Selanjutnya saya akan cerita perjalanan kami ke Rembangan di posting berikutnya ya 😉.

 

–Ta–

 

Advertisements

2 thoughts on “Tanjung Papuma – Menjejakkan Kaki di Kota Kenangan (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s